Ketua Komisi C Ikuti Proses Perdamaian Konflik Kwamki Narama

Bupati Mimika Eltinus Omaleng,SE,MH didampingi Ketua Komisi C DPRD Mimika, Yohanis Kibak  saat memberikan sambutan sebelum prosesi perdamaian konflik di Kwamki Narama, Rabu (18/4) / Foto : Istimewa

KWAMKI NARAMA

Konflik yang terjadi di Kwamki Narama antar tiga kelompok Atas, Tengah dan Bawah akhirnya pada, Rabu (18/4) siang berakhir yang ditandai dengan prosesi patah panah dan penyerahan uang denda ada sebesar Rp 3 Miliar.

Prosesi perdamaian yang dihadiri lansung oleh Bupati Kabupaten Mimika,Eltinus Omaleng,SE,MH dan didampingi oleh Ketua Komisi C DPRD Mimika, Yohanis Kibak dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) kabupaten Mimika. Selain ketua Komisi C DPRD Mimika, sejumlah anggota DPRD Mimika juga hadir dalam prosesi perdamaian tersebut.

Walaupun sempat mengalami penundaan yang sesuai rencana awalnya proses perdamaian adalah pukul 10.00 WIT, namun salah satu kubu atas masih bernegoisasi dan nyaris tak ,mau berdamai  setelah beberapa jam Kapolres AKBP Agung Marlianto melakukan pendekatan dengan tokoh atas akhinrnya perdamaian tiga kelompok yang bertikai sepakat berdamai dan mengakhiri perang.

Prosesi perdamaian antar tiga kelompok di Kwamki Narama ditandai dengan mengorbankan dua ekor anak babi sebagai syarat perdamaian/ Foto : Istimewa

Perdamaian ditandai dengan menanda tangani Berita Acara perdamaian dengan proses pembuatan Jambu Kot (Pintu perdamaian) oleh gabungan tiga  kubu , serta memanah beberapa ekor anak babi yang menandakan syarat  dimulainya prosesi perdamaian.

Pada kesempatan tersebut selain dilakukan prosesi patah panah juga masing-masing kubu diberikan ganti rugi atau biasa disebut denda ada masing-masing kubu menerima denda adat senilai Rp 3 Miliar.

Bupati Mimika Eltinus Omaleng SE,MH dalam sambutannya menegaskan bahwa setelah dilakukan kesepakatn berdamai maka, saat ini tidak ada lagi mengatas namakan kelompok atas tengah atau bawah.

“Disini tidak ada kelompok atas, tengah, bawah, semuanya adalah satu.Mulai hari ini, baik kubu atas, tengah, bawah tidak ada perang lagi, jika ada kami akan perintah kan tangkap dan adili sesuai hukum yang berlaku.Tidak ada perang lagi, jika perang maka pemerintah akan siapkan pesawat dan akan antar kalian semua pulang kembali ke kampung asal,”tegas Bupati Omaleng disambut tepuk tangan dari seluruh yang hadir dalam prosesi tersebut.

Omaleng mengatakan, mulai saat ini semua aktifitas sudah berjalan normal kembali.

“Warga jalan ini bebas, mau kemanapun silahkan. Jangan tahan-tahan di tengah jalan.Ibu-ibu silahkan belanja ke pasar tidak ada lagi perang.Mulai sekarang sampai satu minggu kedepan semua akses kantor di Kwamki Narama akan saya aktifkan kembali. Pos TNI-Polri dan asrama akan kita bangun disini, Mako Brimob akan kami pindahkan di sini, “katanya.

Bupati Mimika Eltinus Omaleng,SE,MH saat menyerahkan uang denda ada (Kepala) kepada perwakilan Tiga Kubu yang bertikai dan resmi berdamai. / Foto : Istimewa

Hal senada juga ditegaskan Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto SIK bahwa setelah sekian lama saya menanti dan kita semua berharap terciptanya perdamaian, akhirnya hari ini telah terlaksana.

“Kami mohon setelah ini tidak ada lagi yang membawa senjata tajam, panah atau alat perang lainnya. Karena hari ini kita sudah patah panah yang menandakan perdamaian telah tercipta. Saya harapkan tidak ada perang lagi, tidak ada yang bilang berkali demi melindungi diri dengan cara membawa alat perang, setelah selesainya acara ini tentunya semuanya bisa membaur,”tegasnya.

Sementara Mewakili Ketua DPRD Mimika, Ketua Komisi C Yohanis Kibak kepada Buletin DPRD Mimika mengapresiasi langkah dari Kapolres Mimika dibantu Danduimk 1710 dan lebih khusus kepada Bupati Eltinus Omaleng untuk mengakhiri konflik yang selama ini sudha berlangsung cukup lama dan telah banyak jatuh korban.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada pimpinan TNI-Polri, Bupati dan semua pihak sehingga proses perdamaian ini telah diakhiri hari ini. Mari kita fokus untuk bekerja dan memajukan pembangunan dan sejahterakan masyarakat Mimika. Konflik jangan lagi ada. Kerugian lah yang kita alami , karena sesungguhnya kita semua anak negeri harusnya saling melindungi jangan saling membunuh,”pinta Kibak. (humas)

Salah satu kelompok yang bertikai sedang menari dengan perlengkapan perang  sebelum bersepakat berdamai/ Foto : Istimewa

Berita Umum