Dari Kunjungan Dua Anggota DPRD Dapil V : Temukan Kerusakan Lingkungan Di Kampung Pronggo

Dua anggota DPRD Mimika Muhammad Nurman Karupukaro dan Eliezer Ohee bersama rombongan foto berlatar belakang tumpukan pasir besi milik PT Megantara Universal di Kampung Pronggo, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika,Papua, Sabtu (26/5) / Foto :humas

TIMIKA

Dari kunjungan dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mimika Daerah Pemilihan V, Muhammad Nurman S Karupukaro (Gerindra) dan Eliezer Ohee (PAN) dalam kegiatan Reses di Kampung Pronggo menemukan kerusakan lingkungan sangat parah akibat aktifitas dari perusahaan Pasir besi PT Megantara Universal.

Dalam kegiatan reses dua anggota DPRD Mimika tersebut pada, Sabtu (26/5) lalu dua anggota ini terkejut sejak speedboat yang ditumpangi memasuki muara Kampung Pronggo sudah terlihat beberapa kapal ukuran besar sudah karam dimulut muara. Semakin kedalam muara tepatnya di depan kampung Pronggo puluhan kapal pengangkut besi dan kapal penyedot pasir besi berserakan.

Mereka bersama rombongan terus melanjutkan perjalanan dengan melihat tumpukan pasir besi setinggi kurang lebih 20 Meter terbentang tinggi persis disamping pintu Gerbang Kampung Pronggo yang katanya pasir besi itu akan di ekspor keluar tapi nyatanya tidak.

Kampung Pronggo saat ini dipenuhi kubangan kolam yang sangat dalam, pohon-pohon ditebang serta terjadinya pendangkalan sungai. Wajah asli Kampung Pronggo yang ditinggalkan leluhur dengan segudang kekayaan alam, kini nampak porak poranda seperti sebuah kampung yang baru saja ditimpa bencana alam.

Dua anggota DPRD Mimika yang melakukan kegiatan reses ke Kampung Pronggo nelihat secara dekat bekas-bekas puing-puing besi yang ditinggalkan berserakan. Puing dari bekas kapal, alat-alat berat, truk-truk dan mesin pelebur pasir besi berserakan di mana-mana yang sudah ditutupi rumput.

Anggota DPRD Mimika Muhammad Nurman S Karupukaro sangat menyayangkan kondisi yang kini terjadi di Pronggo.  Karena menemukan kondisi lingkungan yang telah rusak akibat eksplorasi dari perusahaan tambang besi selama hampir lima tahun dari sejak tahun 2000 hingga 2016 lalu.

Sepanjang puluhan kilometer dari muara hingga ke arah kampung terlihat eks kubangan bekas penyedotan pasir besi. “Kondisi kerusakan lingkungan yang saat ini terjadi merupakan korban penipuan dari sebuah perusahaan (investor) yang telah mengeruk dan mengambil hasil kekayaan alam berupa emas. Kerusakan yang terjadi ini harus dipertanggungjawabkan oleh PT Megantara Universal, ini pembohongan kepada masyarakat. Hasil alam dirampas tapi apakah masyarakat sejahtera dan Kampung Pronggo  menjadi maju? Kan tidak,” tegas Nurman.

Untuk itu, Nurman secara tegas menuntut pihak-pihak yang dulu sepakat untuk menyetujui perusahaan tambang pasir besi beroperasi di Pronggo harus bertanggung jawab, terlebih PT Megantara Universal atas kerusakan lingkungan yang saat ini terjadi.

“Pihak-pihak yang mendukung perusahaan beroperasi di Pronggo harus bertanggung jawab, termasuk Pemerintah Kabupaten Mimika melalui OPD-OPD yang dulu memberikan rekomendasi harus bertanggung jawab. Saya minta dengan tegas kepada PT Megantara Universal untuk memberikan kompensasi atau ganti rugi terhadap kerusakan yang terjadi saat ini,” tegasnya.

Saat berdialog dengan aparat kampung dan tokoh masyarakat setempat, Nurman berjanji akan terus mengawal apa yang dituntut masyarakat mengenai kompensasi atau ganti rugi dari perusahaan akan hingga apa yang menjadi tuntutan masyarakat bisa terealisasikan.

“Saya ini orang pertama yang menolak beroperasinya PT Megantara Universal untuk masuk ke Pronggo sebelum ada perjanjian dengan perusahaan apa yang diterima masyaakat. Namun karena saya ditentang oleh banyak pihak sehingga saya diam. Dan faktanya sekarang apa yang terjadi, masyarakat hanya dapat janji belaka saja,” keluhnya.

Hal senada ditegaskan anggota DPRD Mimika Eliezer Ohee bahwa PT Megantara Universal telah menipu masyarakat dan Pemkab Mimika. Sebab, perusahan tersebut beroperasi dengan berkedok usaha pasir besi, tapi kenyataannya yang diambil adalah emas murni yang menjadi kekayaan alam milik masyarakat Pronggo.

“Masyarakat telah dibodohi dan hasil alamnya telah dirampas, namun masyarakat Pronggo tetap miskin. Saya sangat sedih melihat kondisi lingkungan yang telah rusak saat ini. Kerusakan ini harus dipulihkan kembali seperti semula. Dewan akan meminta Kementerian Lingkungan Hidup untuk melakukan investigasi di Pronggo ini. Apabila hasil investigasi ada unsur kesengajaan merusak lingkungan selama PT Megantara Universal beroperasi tidak sesuai Amdal, maka masyarakat bisa menuntut secara hukum,” tegas Eliezer Ohee dengan nada kesal disela-sela meninjau beberapa lokasi yang rusak parah.

Semenjak ditinggalkan perusahaan, Ohee mengakui warga setempat tetap berada dalam kehidupan yang serba sulit. Tidak ada penerangan listrik, tidak ada perumahan bagi warga yang seharusnya dibangun oleh perusahaan.

“Ini fakta terlihat di Kampung Pronggo, tidak beda jauh dengan kampung lain. Padahal kekayaan alamnya telah dirampas. Katanya koperasi yang dulu ada dan diresmikan oleh Bupati Mimika, kini tinggal bangunan kosong tak bertuan, dan pengusaha-pengusaha perorangan yang kini menemani warga untuk menjalani hidup sehari-hari. Pemerintah harus bertanggung jawab juga dengan kondisi ini. OPD teknis harus segera menurunkan tim untuk melihat kondisi kampung dan masyarakat Pronggo,” tegas Ohee.

Pengakuan dari sejumlah warga menyebutkan bahwa selama PT Megantara Universal beroperasi dengan mengambil pasir besi telah melakukan penyedotan sehingga muncul ratusan hektar lubang kubangan atau lubang besar yang ditinggalkan.

“Kalau ada perusahaan atau siapa saja yang mau ambil besi tua harus membayar kompensasi 10 miliar rupiah baru bisa. Cukup sudah yang lalu-lalu, kami tidak akan mau ditipu lagi,” aku salah satu warga.

Warga lainnya, mengatakan, pengalaman yang dialami dan telah terjadi bagi masyarakat Pronggo merupakan pelajaran berharga, sehingga kedepan tidak akan lagi terjadi.

Sejumlah warga yang ditemui mengaku PT Megantara Universal hanya berkedok mengambil pasir besi, namun faktanya yang diambil dan dikirim secara diam-diam adalah emas murni.

Berdasarkan pengakuan warga dari hasil peninjauan di beberapa lokasi, ditemukan puluhan bahkan ratusan mesin pelebur emas (moleng) dan kapal-kapal kecil penyedot pasir di beberapa lokasi.

Masyarakat Pronggo sangat yakin bahwa bukan pasir besi yang dibawa keluar, tapi emas murni. Hal itu diperkuat dengan pengalaman warga setempat yang sampai saat ini, kalau mendulang masih mendapatkan emas sebanyak satu sampai dua kaca dalam sehari. (humas)

Berita Terbaru Berita Umum